Tuesday, February 8, 2011

Erickson's Psychosocial Stages of Development dan Tarbiyyah?

Assalamualaikum

Semalam, ana dan rakan-rakan ana berbincang tentang soalan past year Psychiatry, dan kami bincang tentang Erickson's theory of Psychosocial stages of Development. Menariknya, keesokan paginya, tiba-tiba terlintas di hati, "eh, teori ne sebenarnya boleh apply dalam pembangunan tarbiyyah". Teori Erickson menerangkan tentang pembesaran kendiri bermula dari bayi lagi sampai la tua. Ada 8 stage dalam teori ni, diringkaskan:


menurut Erickson, jika pada stage yang tertentu, seseorang itu dapat melepasi "crisis" dengan baik, beliau dapat mencapai "favourable outcome" dan kiranya crisis itu tidak dihandle dengan baik, maka dia akan mendapat"unfavourable outcome". Apa yang menarik adalah, dalam explanation teori ini, terutamanya ketika di stage "childhood", ibu bapa dikatakan memainkan "main role" dalam memastikan anaknya mencapai favorable outcome. Apa yang dapat ana kaitkan, peranan ibu bapa itu serupa juga dengan peranan murabbi, kepada mutarabbinya. Tak caya? Kita go through...

Stage 1 : trust vs mistrust

Dalam stage ne, dikatakan “the child develops basic trust and realizes that people are dependable and the world can be a safe place. The child develops a sense of hope and confidence; this is a belief that things will work out well in the end”. maka pada permulaan usrah itu, seorang murabbi perlulah menerapkan kepada mutarabbinya bahawa bahawa mereka adalah orang yang mutarabbinya boleh harapkan, dan memberi mereka hope bahawa mereka boleh berubah atau harapan untuk mencapai sesuatu dari usrah ini. HOPE itu sangat penting untuk betul-betul diterapkan supaya mereka compliant untuk datang next usrah kita.

Dikatakan juga "when the parents fail to provide these things, the child develops basic mistrust, resulting in depression, withdrawal, and maybe even paranoia”. Rasanya kalau first day usrah kita terus suruh dia be independent dan mula menjalankan kerja dakwah, tak terkejut dia? Dan menyebabkan perasaan tertekan, withdraw dan paranoid (untuk datang usrah lagi)

Stage 2 :autonomy Vs Shame

“if parents guide children gradually and firmly, praise and accept attempts to be independent, autonomy develops. The result will be a sense of will which helps us accomplish and build self-esteem as children and adults

Kata ana pula, jika seorang murabbi berjaya mendidik mutarabbinya dengan dorongan positif, pujian dan menerima inisiatif mereka untuk berdikari maka mereka akan rasa ada autonomi di dalam suasana usrah tersebut, mereka merasakan mereka punya hak untuk bercakap, untuk beri pendapat dan ini akan memberikan rasa “will” atau kesungguhan. Dengan itu mereka juga membina self esteem atau keyakinan diri.

Sebaliknya: “if parents are too permissive, harsh, or demanding, the child can feel defeated, and experience extreme shame and doubt, and grow up to engage in neurotic attempts to regain feelings of control, power, and competency. This may take the form of obsessive behavior; if you follow all rules exactly then you will never be ashamed again. If the child is given no limits or guidance, the child can fail to gain any shame or doubt and be impulsive. Some is good, as it causes us to question the outcomes of our actions, and consider others' well-being. This may also result in Avoidance; if you never allow yourself to be close to others, they can never make you feel ashamed

Pendek kata, jangan berkasar pada peringkat awal atau terlalu mengharap, mereka boleh jadi akan merasa “defeated”, malu dan ragu-ragu. Lebih teruk lagi sekiranya merek menginginkan autonomi tapi tak dapat, maka mereka mula berbuat perkara yang menjadikan mereka obsessive. Contoh yang diberi diatas "if you follow all rules exactly then you will never be ashamed again." Jadi kita taknak mereka stress-stress sangat. 

Stage 3 : Initiative vs Guilt

if parents are understanding and supportive of a child's efforts to show initiative, the child develops purpose, and sets goals and acts in ways to reach them

Alhamdulillah! Tak perlu ana explain lagi! Kalau mereka mula menunjukkan inisiatif maka SUPPORT MEREKA supaya mereka ada rasa PURPOSE… (oh~~ana sangat tersentuh disini)

Dan sebaliknya…. “if children are punished for attempts to show initiative, they are likely to develop a sense of guilt, which in excess can lead to inhibition. Too much purpose and no guilt can lead to ruthlessness; the person may achieve their goals without caring who they step on in the process

Jika kita terlalu kritikal maka mereka yang sepatutnya ingin develop purpose akhirnya merasa bersalah, menyebabkan “inhibition”. Dan jika mereka masih mencari purpose dan benar-benar ingin membuat inisiatif, dan masih tidak menjumpai caranya (sebab mutarabbi gagal memberi sokongan) , jadi terlalu banyak perkara yang mereka rasa mereka perlu buat sampaikan mereka jadi “kurang ajar” sikit, mungkin sebab tak pasti cara terbaik untuk handle situation.

Stage 4 :Industry vs Guilt

Pada stage ini mereka mula belajar untuk memikul tanggungjawab dan mula “berkerja” untuk jalan dakwah (cewaah…). Masalahnya: “if caretakers do not support the child, feelings of inferiority are likely to develop. Too much inferiority, and inertia or helplessness occurs (underachievers). Too much competency and the child becomes an adult too fast, and develops either into a Histrionic or Shallow person if caretakers do not support the child, feelings of inferiority are likely to develop. 

Pada stage ini kena banyak assess mereka, support, tapi jangan mereka terlebih sampai menjadi seorang yang Histrionic (berlagak bagus sebab nak dapat perhatian) ataupun shallow (superficial je, tapi penghayatan sebenar tu takde).

Ada lagi 4 stage
  • Stage 5: Identity vs Role Confusion
  • Stage 6 : Intimacy vs Isolation
  • Stage 7 : Generativity vs Stagnation
  • Stage 8 : Ego Integrity vs Despair

Buat masa ni ana taknak cerita tentang stage yang berikutnya, memandangkan ana sendiri merasakan, dalam proses tarbiyyah ini, ana sendiri belum sampai stage yang tinggi-tinggi tu. Tapi insyaAllah, ana sangat berminat untuk mengupas lebih lagi… (sukati je)

Persoalannya, dimana kita pada stage2 ini, adakah kita mencapai favorable outcome dalam pembangunan tarbiyyah, atau adakah kita mengalami unfavorable outcome? Dan bagaimana pula mutarabbi kita, adakah mereka mencapai favorable outcome, dan sudahkah kita menjalankan tanggunggjawab kita sebagai MURABBI?

Jzkk pada yang sudi membaca, asif ye, ana cerita tentang falsafah yang entah betul entah tidak, sekadar pandangan ana sahaja dengan sekadar ilmu yang Allah hikmahkan pada diri ana.

nak promot cerita sang Murabbi yang rahmah belum lagi sempat nak kasi ana tengok (~_~)
Rahmah...nak tengok sang Murabbi....


Ana ingin mengahiri perkongsian pendapat ini dengan sebuah sajak yang masih lagi ana ingat sikit2 (yang memenangi tempat pertama dalam....sumthing....waktu PKN ke...KONSIS...er....tak ingat sangat further details)
MURABBI

Oh alangkah bahagia
Oh alangkah mulia
Hari ini aku kisahkan
Aku, dan disisiku,
MURABBI.
Seperti rasul
Bersama-sama, nikmati satu santapan,
Begitu murabbiku
Duduk bersama, jamah satu hidangan.
Seperti rasul
Bersama-sama berbantalkan lengan,
Begitu murabbiku
Bersama-sama tidur atas hamparan.
Seperti rasul,
Turun bersama gali paritan
Begitu murabbiku
Sentiasa seiringku lakukan tugasan.
Seperti rasul,
Faham segala dalaman luaran
Begitu murabbiku
Segala pemikiran tekun menjelaskan.
Seperti rasul,
Membina syuhada’ pemuda pahlawan
Begitu murabbiku
Dibina aku lengkap perincian.
Seperti rasul,
Marah, senyum, sedih, memberi kesan
Begitu murabbiku
Memberi taujih sesuai perasaan.
Seperti rasul,
Menyucikan, memahamkan, lantas menggerakkan
Begitu murabbiku
Diasuh aku, jadi asas kebangkitan.
Seperti rasul,
Menghormati tidak memalukan
Begitu murabbiku
Di sampingnya aku, terasa dimuliakan.
Yang lahir bukan sekadar hartawan
Yang lahir bukan sekadar agamawan
Yang lahir bukan sekadar negarawan
Yang lahir bukan sekadar tokoh kemasyarakatan
Yang lahir bukan sekadar juara kebajikan
Yang lahir bukan sekadar olahragawan
Yang lahir bukan sekadar jaguh perdebatan
Tetapi RIJAL,
Dengan mereka ISLAM diagungkan
Oh alangkah bahagia
Oh alangkah mulia
Ketika itu
Aku, dan disisiku,
MURABBI.



No comments: